Sabtu, 29 Juni 2013

MAKALAH PARAMETER MASALAH SECARA SPESIFIK DALAM BK



MAKALAH
PARAMETER MASALAH SECARA SPESIFIK DALAM BK





Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah APTL 1
Dosen Pengampu : Sri Adi Nurhayati, S.Psi. MM
Disusun  :
Kelompok  I
1.      Akmal Hafid                               (1111500074)
2.      Dwi Hidayatsyah                        (1111500092)
3.      Endah Laraswati                         (1111500095)
4.      Firna Firdausia                             (1111500100)
5.      Mohamad Iqbal Mustofa             (1111500038)
6.      Nur Laeli                                     (1111500130)
               KELAS   : E & F
              
BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
2013


KATA PENGANTAR
            Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyusun makalah APTL 1 yang berjudul “Parameter Masalah Secara Spesifik Dalam BK”
            Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih khususnya kepada ibu Sri Adi Nurhayati S.Psi, MM selaku dosen pengampu mata kuliah APTL 1 dan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga penulis dapat menyusun makalah ini dengan baik.
Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat baik bagi penulis maupun bagi orang lain yang membacanya. Namun demikian, penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga  makalah ini dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan, saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.


Tegal,  20 Juni 2013

Penulis


DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGATAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang
B.        Rumusan Masalah
C.        Tujuan
BAB II PEMBAHASAN      
A.         Pengertian Parameter
B.        Pengertian masalah
C.        Pengertian parameter masalah
D.       Parameter masalah dalam konseling
E.        Menulis aitem
F.         Menentukan indikator
G.       Blue print
H.       Menentukan parameter
a.       Membuat contoh kasus
b.      Identifikasi, diagnosa, prognosa,  & treatmen
c.       Indikator masalah
d.      Blue print
e.       Tes
BAB III KESIMPULAN
A.       Kesimpulan
B.        Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN








                                                                                                   




                                                                                                                                       
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pemahaman individu (http://dalamsebuahperjalanan.wordpress.com/2012/03/17/pengertian-pemahaman-individu/  di unduh pada tanggal 20 juni 2013 pukul 20:38) merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh konselor berupa pengumpulan data, analisis data, penafsiran hasil analisis, dan penarikan keimpulan tentang diri individu untuk kepentingan layanan Bimbingan dan Konseling.
Salah satu hal yang penting dalam bimbingan dan konseling ialah memahami individu secara keseluruhan baik masalah yang dihadapi maupun latar belakangnya. Dengan demikian individu akan memperoleh bantuan yang tepat dan terarah. Dengan kata lain perlunya pemahaman individu dalam layanan bimbingan dan konseling adalah agar individu memperoleh bantuan yang sesuai dengan kemampuan dan potensinya agar apa yang diharapkannya dapat tercapai (artinya individu dapat mencapai penyesuaian diri dengan dirinya sendiri, lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat).
Cara-cara yang digunakan untuk memahami individu tersebut mencakup observasi, interview, skala psikologis, daftar cek, inventory, tes proyeksi, dan beberapa macam tes. Pemahaman atau penilaian itu dimaksudkan untuk kepentingan pemberian bantuan bagi pengembangan potensi yang ada padanya (developmental) dan atau penyelesaian masalah-masalah yang dihadapinya (klinis). Dalam melakukan asesmen itu, lazim digunakan berbagai instrumen yang bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu dengan cara tes dan non-tes.
Adapun tujuan pemahaman individu dalam Bimbingan dan Konseling yaitu agar konselor semakin mampu menerima keadaan konseli (individu/siswa) seperti apa adanya, konselor semakin mampu memperlakukan konseli sebagaimana mestinya, konselor terhindar dari gangguan komunikasi sehingga proses konseling dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Pengukuran masalah dalam bimbingan dan konseling merupakan bagian dari asesmen. Oleh karena itu, kami menyusun makalah ini guna mengetahui cara menyusun pengukuran masalah yang spesifik.
B.     Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, penulisakan memaparkan beberapa pokok-pokok permasalahan antara  lain:
a.       Pengertian Parameter
b.      Pengertian Masalah
c.       Pengertian Parameter Masalah
d.      Parameter Masalah dalam Konseling.
e.       Menulis Aitem
f.       Menentukan Indikator
g.      Blue Print
h.      Menentukan Parameter.


Didalam penentuan parameter juga akan dibahas tentang :
a.        Membuat Contoh Kasus
b.      Identifikasi, Diagnosa,Prognosa, dan Treatmen
c.       Indikator Masalah
d.      Blue Print
e.       Tes
C.    Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah :
a.    Mengetahui dan memahami pengertian parameter masalah, parameter masalah dalam BK
b.    Kita dapat menentukan parameter masalah mulai dari contoh kasus, Identifikasi, Diagnosa, Prognosa, Treatmen, serta menentukan Indikator Masalah, blue print dan tes

 
BAB II
PEMABAHASAN

A.    Pengertian Parameter
1.      Menurut kamus besar bahasa Indonesia (http://www.kamusbesar.com/28761/parameter di unduh pada tanggal 26 Juni 2013 pukul 15:21) merupakan ukuran seluruh populasi dl penelitian yg harus diperkirakan dr yg terdapat di dl percontoh; (nomina)
2.      Menurut (http://lisnoorchayati.wordpress.com/2010/05/17/apa-perbedaan-dari-parameter-dan-argumen/ di unduh pada tanggal 20 Mei 2013 pukul 12:11) merupakan indikator dari suatu distribusi hasil pengukuran. Nilai yang mengikuti sebagai acuan. Keterangan atau informasi yang dapat menjelaskan batas-batas atau bagian-bagian tertentu dari suatu sistem. Suatu parameter adalah kuantitas terukur yang inheren dalam suatu masalah. Syarat ketercapaian tujuan. Artinya, parameter yang terwujudkan hmengindikasikan ketercapaian tujuan.
3.      Menurut (http://www.businessdictionary.com/definition/parameter.html di unduh pada tanggal 26 Juni 2013 pukul 15:20) Didefinisikan, terukur, dan konstan atau variabel karakteristik, dimensi, properti, atau nilai, dipilih dari sekumpulan data (atau populasi) karena dianggap penting untuk memahami situasi (atau dalam memecahkan masalah). Sebagai perbandingan, perimeter menetapkan batas eksternal situasi tetapi tidak membantu dalam menilai, dan statistik adalah ukuran sampel dan bukan dari populasi.
Sedangkan menurut kelompok kami parameter adalah suatu alat ukur yang digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari indikator masalah-masalah yang ada dalam setiap individu.
B.     Pengertian Masalah
Masalah (http://yayatsahut.blogspot.com/2011/04/pengertian-dan-jenis-masalah.html diunduh pada tanggal 26 juni 2013 pukul 15:36) menurut:
1.      James Stoner, Masalah adalah suatu situasi menghambat organisasi untuk mencapai satu atau lebih tujuan.
2.      Prajudi Atmosudirjo, Masalah adalah sesuatu yang menyimpang dari apa yang diharapkan, direncanakan, ditentukan untuk dicapai sehingga merupakan rintangan menuju tercapainya tujuan.
3.      Roger Kaufman, Masalah adalah suatu kesenjangan yang perlu ditutup antara hasil yang dicapai pada saat ini dan hasil yang diharapkan.
Sedangkan menurut kelompok kami masalah adalah suatu keadaan yang tidak dikehendaki dalam kehidupan kita karena adanya suatu kesenjangan dengan suatu yang diharapkan

C.      Pengertian Parameter Masalah
Parameter menurut kelompok kami adalah suatu alat ukur yang digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari indikator masalah-masalah yang ada dalam setiap individu.
 masalah menurut kelompok kami adalah suatu keadaan yang tidak dikehendaki dalam kehidupan kita karena adanya suatu kesenjangan dengan suatu yang diharapkan
            Jadi parameter masalah menurut kelompok kami adalah suatu alat ukur yang digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan individu dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya.

D.    Parameter Masalah dalam Konseling
Pengukuran (dalam buku Penyusunan Skala Psikologi, Saifuddin Azwar, 2012, halaman 1-3) dapat didefinisikan sebagai proses kuantifikasi suatu atribut. Pengukuran yang diharapkan akan menghasilkan data yang valid harus dilakukan secara sistematik. Berbagai alat ukur telah diciptakan untuk melakukan pengukuran atribut dalam bidang fisik seperti berat badan, kecepatan kendaraan, luas bidang datar, suhu udara, dan semacamnya yang segi validitasnya hamper semua dapat diterima secara universal. Kuantifikasi berat badan dengan mudah dilakukan dengan bantuan alat timbangan badan dan kuantifikasi kecepatan laju kendaraan dilakukan dengan bantuan speedometer sehingga angka berat badan 65 kg atau angka laju kendaraan 110 km/jam memberikan gambaran yang mudah dimengerti oleh hampir semua orang. Validitas, reliabilitas, dan objektivitas hasil pengukuran di bidang fisik tidak banyak lagi menjadi sumber kekhawatiran dan tidak banyak lagi dipertanyakan orang. Apalagi untuk menjaga akurasi hasil pengkuran fisik, selalu dapat dilakukan tera ulang atau kalibrasi secara berkala.
Pada sisi lain, pengukuran di bidang non-fisik khususnya di bidang psikologi masih berada dalam taraf perkembangan yang mungkin tidak akan pernah mendekati kesempurnaan. Beberapa tes dan skala psikologi yang standar ( standard measures ) dan yang telah terstandarkan ( standardized measures ) kualitasnya belum dapat dikatakan optimal. Berbagai kemajauan pesat dibidang teori pengkuran psikologi (psikometri) justru menyikap sisi lemah dari banyak tes dan skala psikologi yang sudah ada dan sudah lama digunakan.
Dibandingkan dengan atribut fisik, pngukuran atribut-atribut psikologis jauh lebih sukar dan bahkan mungkin tidak akan pernah dapat dilakukan dengan tingkat validitas ,reliabilitas, dan objetivitas yang sangat tinggi. Hal ini antara lain dikarenakan :
1.   Atribut psikologis bersifat latent, yang eksistensinya ada secara konseptual. Artinya, objek pengukuran psikologi merupakan konstrak yang tidak dapat teramati secara langsung melalui banyak indikator perilakuan yang operasional. Merumuskan indikator keprilakuan secara tepat bukanlah hal yang mudah dilakukan. 
2.   Aitem-aitem dalam skala psikologi ditulis berdasarkan indikator keprilakuan yang jumlahnya pasti terbatas. Keterbatasan itu dapat mengakibatkan hasil pengukuran psikologi menjadi tidak cukup komprehensif sedangkan bagian indikator keprilakuan yang terbatas itupun sangat mungkin pula masih tumpang tindah dengan indikator keprilakuan dari atribut psikologi yang lain.
3.   Respon yang diberikan oleh subjek terhadap stimulus dalam skala psikologi sedikit banyak dipengaruhi oleh variabel-variabel yang tidak relevan seperti suasana hati subjek, gangguan kondisi dan situasi disekitar, dan semacamnya.
4.   Atribut psikologi yang terdapat dalam diri manusia stabilitasnya tidak tinggi. Banyak yang mudah berubah sejalan waktu dan situasi.
5.   Interpretasi terhadap hasil ukur psikologi hanya dapat dilakukan secara normatif. Dalam istilah pengukuran, dikatakan pengukuran psikologi terdapat lebih banyak sumber eror.
Dalam melakukan tolak ukur konseling dapat menggunakan antara lain: 
1.   Pengertian Assesmen
1.      Menurut Ratna Widiastuti (http://bkpemula.wordpress.com/2012/01/29/assesmen-dalam-bk/ di unduh pada tanggal 19 juni 2013 pukul 09:53) merupakan salah satu kegiatan  pengukuran. Dalam konteks bimbingan konseling, asesmen yaitu mengukur suatu proses konseling yang harus dilakukan konselor  sebelum, selama, dan setelah konseling tersebut dilaksanakan/ berlangsung. Asesmen merupakan salah satu bagian terpenting dalam seluruh kegiatan yang ada dalam konseling (baik konseling kelompok maupun konseling individual).
2.      Menurut (http://yadhy-nienk.blogspot.com/2011/02/pengertian-asesmen-serta-formatnya.html  di unduh pada tanggal 13 Juni 2013 pukul 11:30) merupakan kegiatan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan/kompetensi yang dimiliki oleh konselee dalam memecahkan masalah.  Asesmen yang dikembangkan adalah asesmen yang baku dan meliputi  beberapa aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor dalam kompetensi dengan menggunakan indicator-indikator yang  ditetapkan dan dikembangkan  oleh  guru BK/konselor sekolah.
3.      Menurut Robert M Smith (http://unsilster.com/2009/12/pengertian-asesmen/ di unduh pada tanggal 26 Juni 2013 pukul 15:48)
“Suatu penilaian yang komprehensif dan melibatkan anggota tim untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan yang mana hsil keputusannya dapat digunakan untuk layanan pendidikan yang dibutuhkan anak sebagai dasar untuk menyusun suatu rancangan pembelajaran.
4.      Menurut James A. Mc. Lounghlin & Rena B Lewis
(
http://unsilster.com/2009/12/pengertian-asesmen/ di unduh pada tanggal 26 Juni 2013 pukul 15:48) “Proses sistematika dalam mengumpulkan data seseorang anak yang berfungsi untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu, sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan. Berdasarkan informasi tersebut guru akan dapat menyusun program pembelajaran yang bersifat realitas sesuai dengan kenyataan objektif.
Jadi menurut kelompok kami assesmen adalah suatu bentuk pengukuran 
2.   Pengertian Insrtrumentasi
1)      Menurut Ibnu Hadjar (http://yusrizalfirzal.wordpress.com/2010/11/15/konsep-dasar-instrumen-penelitian/ di unduh pada tanggal 26 Juni 2013 pukul 16:36) berpendapat bahwa instrumen merupakan alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan informasi kuantitatif tentang variasi karakteristik variabel secara objektif.
2)      Menurut Sumadi Suryabrata (http://yusrizalfirzal.wordpress.com/2010/11/15/konsep-dasar-instrumen-penelitian/ di unduh pada tanggal 26 Juni 2013 pukul 16:37) adalah alat yang digunakan untuk merekam-pada umumnya secara kuantitatif-keadaan dan aktivitas atribut-atribut psikologis. Atibut-atribut psikologis itu secara teknis biasanya digolongkan menjadi atribut kognitif dan atribut non kognitif. Sumadi mengemukakan bahwa untuk atribut kognitif, perangsangnya adalah pertanyaan. Sedangkan untuk atribut non-kognitif, perangsangnya adalah pernyataan.
3)      Menurut (http://konseling.ipdn.ac.id/gbpp-sap-pelatihan di unduh pada tanggal 26 Juni 2013 pukul 16:39)  adalah upaya pegungkapan melalui pengukuran dengan memakai alat ukur atau instrument tertentu. Hasil aplikasi ditafsirkan, disikapi dan digunakan untuk memberikan perlakuan terhadap klien dalam bentuk  layanan konseling.
4)      Menurut (http://wieztha.blogspot.com/2012/05/jenis-jenis-instrumen-bimbingan.html di unduh pada tanggal 19 juni 2013 pukul 09:44) merupakan bagian dari kegiatan pendukung dari bimbingan konseling yang mana terdapat di dalamnya instrument tes dan non tes.
A.    Instrumen Tes
a)      Secara umum kegunaan berbagai tes itu menurut (http://konseling.ipdn.ac.id/gbpp-sap-pelatihan di unduh pada tanggal 26 Juni 2013 pukul 16:44) ialah membantu konselor dalam :
1.      Memperoleh dasar-dasar pertimbangan berkenaan dengan berbagai masalah pada individu yang di tes, seperti masalah penyesuaian dengan lingkungan, masalah prestasi atau hasil belajar, masalah penempatan dan penyaluran;
2.      Memahami sebab-sebab terjadinya masalah diri individu;
3.      Mengenali individu (misalnya peserta didik) yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi dan sangat rendah yang memerlukan bantuan khusus;
4.      Memperoleh gambaran tentang kecakapan, kemampuan, atau keterampilan seseorang individu dalam bidang tertentu.
b)      Persyaratan instrumen  tes yang baik :
Penyusunan tes menurut (http://konseling.ipdn.ac.id/gbpp-sap-pelatihan di unduh pada tanggal 26 Juni 2013 pukul 16:39) dilakukan melalui tiga tahap, yaitu perencanaan tes, penulisan tes dan analisis tes. Perencanaan tes dilakukan dengan langkah-langkah :
1.      Menetapkan tujuan tes
2.      Menetapkan hasil belajar yang akan diukur
3.      Mempersiapkan tabel spesifikasi
4.      Menetapkan isi materi tes
5.      Menetapkan butir tes
6.      Menyiapkan norma aturan
7.      Mempersiapkan kunci scoring
Berbagai hal yang diperoleh konselor dari hasil tes dipergunakan konselor untuk menetapkan jenis layanan yang perlu diberikan kepada individu yang dimaksudkan.
Setelah diketahui bahwa tes yang hendak digunakan merupakan tes standar maka dalam bimbingan konseling ada beberapa instrument atau alat tes yang dapat di gunakan untuk kepentingan penyelenggaraan program bimbingan dan konseling
B.     Instrumen Non-Tes
Instrumen non-tes menurut (http://konseling.ipdn.ac.id/gbpp-sap-pelatihan di unduh pada tanggal 26 Juni 2013 pukul 16:41) meliputi berbagai prosedur, seperti pengamatan, wawancara, catatan anekdot, angket, sosiometri, inventori yang dibakukan. Agar diperoleh hasil yang terandalkan, pengamatan dan wawancara dilakukan dengan mempergunakan pedoman pengamatan atau pedoman wawancara. Catatan anekdot merupakan hasil pengamatan, khususnya tentang tingkah laku yang tidak biasa atau khusus yang perlu mendapatkan perhatian tersendiri. Angket dan daftar isian dipergunakan untuk  mengungkapkan berbagai hal, biasanya tentang diri individu, oleh individu sendiri. Sosiometri untuk melihat dan memberikan gambaran tentang pola hubungan sosial di antara individu-individu dalam kelompok. Dengan sosiometri akan dapat dilihat individu-individu yang populer, yang membentuk klik atau kelompok-kelompok tertentu, dan mereka yang terpencil (terisolasi). Sedangkan melalui inventori yang dibakukan akan dapat diungkapkan berbagai hal yang biasanya merupakan pokok pembahasan dalam rangka pelayanan bimbingan dan konseling secara lebih luas, seperti pengungkapan jenis-jenis masalah yang dialami individu, sikap dan kebiasaan belajar peserta didik.

E.     Menulis Aitem
(dalam buku Penyusunan Skala Psikologi, Saifuddin Azwar, 2012, halaman 37 dan 41)
a.       Spesifikasi Skala
Kisi-kisi skala pada dasarnya hanya memuat aspek-aspek keperilakuan, indikator keperilakuan, dan bobot yang relatif masing-masing aspek. Kisi-kisi tidak menerangkan tentang  jumlah aitem yang dikehendaki, format dan tipe soal, format respon, serta informasi lain. Oleh karena itu, kisi-kisi perlu dilengkapi dengan beberapa penjelasan paling tidak mengenai format aitem, format respon, dan jumlah aitem yang direncanakan dalam skala, serta keterangan lain yang dapat menggambarkan dengan lengkap bentuk aitem dan bentuk final skala yang sedang dirancang.
b.      Format Aitem
Dari berbagai format yang banyak digunakan dalam penyusunan skala psikologi pada dasarnya dapat dibedakan bentuknya menjadi dua macam, yaitu a) bentuk pernyataan dan b) bentuk pertanyaan. Kedua bentuk aitem tersebut menyediakan beberapa pilihan respon.
Diantara aitem dalam format peryataan ada yang berupa serangkaian kalimat deklaratif saja dan ada yang didahului oleh beberapa baris kalimat atau gambar sebagai stimulus kemudian diikuti oleh pernyataan berkenaan dengan stimulus tersebut. Begitu pula aitem yang dalam bentuk pertanyaan dapat dibuat hanya dalam serangkai kalimat Tanya atau dibuat dengan didahului oleh stimulus berupa beberapa kalimat atau gambar 
c.       Aitem Favorabel dan aitem tidak favorabel
Aspek keperilakuan harus selalu dirumuskan dalam arah favorabel (favorable) yaitu berisi konsep keperilakuan yang sesuai atau mendukung atribut yang diukur. Begitu pula halnya indikator keperilakuan harus selalu dirumuskan dalam kalimat favorabel yaitu yang menggambarkan secara operasional perilaku yang mendukung cirri aspek keperilakuannya. Hal tersebut tidak berlaku dalam penulisan aitem. Aitem selain ditulis dalam arah favorabel dapat juga ditulis dalam arah tidak favorabel, yaitu yang isinya bertentangan atau tidak mendukung cirri perilaku yang dikehendaki oleh indikator keperilakuannya.

F.       Menentukan Indikator
Indikator keperilakuan (dalam buku Penyusunan Skala Psikologi, Saifuddin Azwar, 2012, halaman 28 - 29) adalah deskripsi bentuk-bentuk perilaku yang mengindikasikan adanya atribut psikologi yang di ukur. Salah satu karakteristik utama indikator keperilakuan adalah rumusannya yang sangat operasional dan berada dalam tingkat kejelasan yang dapat di ukur (measureable) dan karenanya dapat dikuantifikasikan. Sebagai suatu analogi, fungsi indikator keperilakuan dalam mendiagnosis atribut psikolog dapat disamakan dengan fungsi symptom atau gejala-gejala yang di gunakan dokter untuk mendiagnosis penyakit. Dokter tidak punya alat ukur penyakit, tapi ia dapat menyimpulkan bahwa seorang menderita demam berdarah dengan melihat dan mengukur  suhu tubuh, tekanan darah, pulsa nadi, kadar HB, dan lain-lain simpton yang relevan. Begitu pula dalam dunia pengukuran psikologi, sebagai suatu atribut maka kecemasan tidak dapat diukur secara langsung namun dapat disimpulkan dari bentuk-bentuk perilaku tertentu yang mengindikasikan secara tidak langsung adanya kecemasan. Itulah fungsi indikator keperilakuan.
Tidak seperti halnya perumusan aspek keperilakuan yang harus selalu berada dalam batas koridor teori dan sama sekali tidak boleh keluar dari konstrak atribut yang diukur, maka perumusan indikator keperilakuan banyak tergantung kepada kreativitas dan intuisi perancang skala. Selama rumusan indikator keperilakuan dinilai relevan dan logis untuk menggambarkan secara konkret aspek keperilakuannya, maka indikator tersebut dapat diterima. Rumusan indikator keperilakuan harus dinyatakan dalam bentuk favorabel sebagaimana perumusan dimensi-dimensi keperilakuan, dan seyogyanya dalam bentuk kalimat / kata kerja.
Pada gilirannya nanti, masing-masing indikator akan diuji secara empirik guna membuktikan relevansinya dalam pengukuran atribut yang bersangkutan. Indikator yang tidak relevan akan gugur dengan sendirinya dalam analisis berdasar data empirik, bilamana tidak didukung oleh data respon subjek, karena aitem-aitem yang ada di dalamnya tidak memiliki daya beda yang baik.
Indikator menurut (http://alisarjunipadang.blogspot.com/2013/04/pengertian-indikator.html di unduh pada tanggal 13 juni 2013 pukul 11:35) Memiliki Karakteristik sebagai berikut :
1.      Sahih (Valid) artinya indikator benar-benar dapat dipakai untuk mengukur aspek-aspek yang akan dinilai.
2.      Dapat dipercaya (Reliable): mampu menunjukkan hasil yang sama pada saat yang berulang kali, untuk waktu sekarang maupun yang akan datang.
3.      Peka (Sensitive): cukup peka untuk mengukur sehingga jumlahnya tidak perlu banyak.
4.      Spesifik (Specific) memberikan gambaran prubahan ukuran yang jelas dan tidak tumpang tindih.
5.      Relevan: sesuai dengan aspek kegiatan yang akan diukur dan kritikal contoh: pada unit bedah indikator yang dibuat berhubungan dengan pre-operasi dan post-operasi.

G.     Blue Print
Blue-print (dalam buku Penyusunan Skala Psikologi, Saifuddin Azwar, 2012: halaman 31) uraian yang disajikan dalam bentuk tabel yang memuat aspek dimensi keprilakuan dalam indikator masing-masing aspek.
Aspek keprilakuan dari atribut yang diukur belum tentu memiliki signifikansi yang sama. Satu aspek dapat lebih berperan dan kontribusinya juga lebih menentukan dibanding aspek lainnya. Oleh karenanya aspek yang lebih penting harus mendapat bobot yang lebih besar atau memperoleh porsi yang lebih banyak dari keseluruhan jumlah aitem
            Tujuan penyusunan kisi-kisi menurut (http://sitiroikhanah.blogspot.com/2013/01/kemandirian-siswa.html di unduh pada tanggal 14 juni 2013 pukul 11:52) adalah merumuskan setepat mungkin ruang lingkup dan tekanan uji coba dan bagian-bagiannya, sehingga rumusan tersebut dapat menjadi petunjuk yang efektif bagi penyusun alat ukur. Jadi dalam blue print ini dirumuskan dengan tujuan-tujuan khusus dari hal-hal yang telah dirumuskan dalam  wilayah pengukuran, tujuan pengukuran dan materi yang akan diujicobakan.


H.     Menentukan Parameter
Didalam menentukan parameter juga akan dibahas tentang :
a.      Membuat Contoh Kasus
Yuli adalah seorang remaja 18 tahun dari keluarga kalangan bawah atau ekonomi rendah, anak pertama dari 2 bersaudara . yuli anaknya sangat penurut, patuh, kepada kedua orang tuanya tapi karena keinginan yang tidak dipenuhi oleh orang tuanya, sikap yuli menjadi berubah yaitu sering melawan orang tua, tidak mau melaksanakan apa yang diperintah oleh orang tuanya seperti membantu bersih-bersih rumah.
Yuli mempunyai keinginan masuk akademi kebidanan tetapi orang tuanya tidak bisa memenuhi keinginan yuli dengan alasan keterbatasan ekonomi, karena keinginan yang kuat akhirnya yuli berusaha mencari cara untuk mendapatkan uang untuk masuk ke akademi kebidanan, adapun yang dilakukan yuli karena  kebingungan untuk mendapatkan uang akhirnya yuli menjual diri. Hal ini tanpa sepengatahuan dari orang tua dan dia hanya bilang akan merantau untuk kerja. Yuli sudah malas dan kecewa karena orang tuanya tidak bisa menjadi andalan bagi dirinya. Setelah mendapatkan uang yuli berusaha mendaftarkan diri ke akademi kebidanan tapi yuli tidak diterima karena tidak memenuhi syarat yaitu karena sudah tidak virgin, akhirnya pilihan kedua dengan terpakasa yuli masuk ke universitas mengambil jurusan hukum tapi setelah itu merasa kebingungan dengan bidang pekerjaan yang nantinya.




b.      Identifikasi, Diagnosa,Prognosa,  & Treatmen
1.      Identifikasi
Pengertian identifikasi (http://eprints.uny.ac.id/7723/3/BAB%202%20-%2008601244012.pdf diunduh pada tanggal 26 Juni 2013 pukul 17:06)  menurut :
1)      JP Chaplin yang diterjemahkan Kartini Kartono yang dikutip oleh Uttoro adalah proses pengenalan, menempatkan obyek atau individu dalam suatu kelas sesuai dengan karakteristik tertentu.
2)      Poerwadarminto adalah penentuan atau penetapan identitas seseorang atau benda
3)      Ahli psikoanalisis adalah suatu proses yang dilakukan seseorang, secara tidak sadar, seluruhnya atau sebagian, atas dasar ikatan emosional dengan tokoh tertentu, sehingga ia berperilaku atau membayangkan dirinya seakan-akan ia adalah tokoh tersebut.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa identifikasi adalah penempatan atau penentu identitas seseorang atau benda pada suatu saat tertentu
Menurut pendapat kelompok kami, pada langkah ini yang harus diperhatikan sebagai konselor adalah mengenal gejala-gejala awal dari suatu masalah yang dihadapi siswa. Dalam kasus ini Yuli terjadi perubahan sikap yang tadinya patuh pada orang tua menjadi anak yang sering melawan orang tua dan susah di atur.


2.      Diagnosis
Pengertian diagnosis adalah sebagai berikut :
1.      Menurut Webster (http://belajarbkyuk.blogspot.com/2010/10/pengertian-diagnosis-kesulitan-belajar.html diunduh pada tanggal 26 Juni 2013 pukul 18:23) yaitu proses menentukan hakekat daripada kelainan atau ketidakmampuan dengan ujian dan melalui ujian tersebut dilakukan suatu penelitian yang hati-hati terhadap fakta-fakta untuk menentukan masalahnya.
2.      Menurut Harriman (http://belajarbkyuk.blogspot.com/2010/10/pengertian-diagnosis-kesulitan-belajar.html diunduh pada tanggal 26 Juni 2013 pukul 18:24) adalah suatu analisis terhadap kelainan atau salah penyesuaian dari simptom-simptomnya.
3.      Menurut (http://en.wikipedia.org/wiki/Diagnosis di unduh pada tanggal 17 juni 2013 pukul 21:54) adalah identifikasi sifat dan penyebab apa pun. Diagnosis digunakan dalam banyak disiplin ilmu yang berbeda dengan variasi dalam penggunaan logika, analisis, dan pengalaman untuk menentukan hubungan sebab dan akibat. Dalam sistem teknik dan ilmu komputer, diagnosis biasanya digunakan untuk menentukan penyebab gejala, mitigasi untuk masalah dan solusi untuk masalah
Maka dapat disimpulkan bahwa diagnosis adalah suatu cara menganalisis suatu kelainan dengan mengamati gejala-gejala yang Nampak dan dari gejala tersebut dicari factor penyebab kelainan tadi.           
Menurut kelompok kami, langkah awal yang dilakukan dalam diagnosis adalah menetapkan masalah berdasarkan analisis latar belakang yang menjadi penyebab timbulnya masalah. Dari beberapa sumber data yang di dapat disimpulkan bahwa perubahan tingkah laku Yuli disebabkan karena keterbatasan ekonomi keluarga yang membuat orang tua tidak memiliki satu pemikiran dengan Yuli untuk sekolah di akademi kebidanan.
3.      Prognosis
Pengertian prognosis adalah sebagai berikut :
1.      Menurut syahri dan rizka ahmad (http://sepucukcinta.blogspot.com/2012/10/langkah-langkah-bimbingan-dan-konseling.html?m=1 diunduh pada tanggal 26 Juni 2013 pukul 18:28) merupakan usaha untuk menelaah atau mengkaji masalah yang dialami seseorang, termasuk kemungkinan-kemungkinan yang akan timbul jika masalah itu dibantu, serta memperkirakan teknik atau jenis bantuan yang akan diberikan kepada orang yang mengalami masalah tersebut.
2.      Menurut (http://yusrikeren85.blogspot.com/2011/11/langkah-langkah-bimbingan-dan-konseling.html diunduh pada tanggal 26 Juni 2013 pukul 18:41) langkah meramalkan akibat yang mungkin timbul dari masalah itu dan menunjukkan perbuatan-perbuatan yang dapat dipilih. Atau dengan kata lain prognosis adalah suatu langkah mengenai alternatif bantuan yang dapat atau mungkin diberikan kepada siswa sesuai dengan masalah yang dihadapi sebagaimana yang ditemukan dalam rangka diagnosis.
3.      Menurut (http://taufiksenjaya.wordpress.com/2011/10/25/prognosis-dan-rencana-perawatan/ diunduh pada tanggal 26 Juni 2013 pukul 18:52) merupakan prediksi dari kemungkinan perjalanan penyakit, lama (durasi), dan hasil akhir dari penyakit berdasarkan pengetahuan tentang patogenesis dan keberadaan faktor risiko dari suatu penyakit.
Menurut kelompok kami prognosis adalah meramalkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada suatu permasalahan.
Dan jika klien tidak langsung diberikan bantuan maka dapat diprediksikan apa yang akan terjadi pada diri klien :
1.      Perilakunya akan semakin tidak terkendali.
2.      Kesehatan kurang baik.
3.      Terjerumus dalam pergaulan bebas (sex before merried)
4.      Akan semakin dijauhi teman-temannya.
5.      Tidak dapat berinteraksi sosial dengan baik.
6.      Menjadi pembicaraan yang negatif oleh orang lain.
7.      Nantinya pada saat ia bekerja akan mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri terhadap bidang pekerjaannya.
4.      Treatmen (pemberian bantuan)
Menurut pendapat kelompok kami setelah konselor merencanakan pemberian bantuan, maka dilanjutkan dengan merealisasikan langkah-langkah alternatif bentuk bantuan berdasarakn masalah dan latar belakang yang menjadi penyebabnya.
1.   Menggunakan layanan pendekatan konseling individu
1)      Perspektif teori realita
        Memahami Yuli dalam perspektif realita, menurut pandangan realita bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menentukan dan mengarahkan dirinya sendiri dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Dengan mendasarkan diri pada keputusan-keputusan yang dibuatnya, manusia memilih perilaku untuk memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga dapat hidup bertanggung jawab, berhasil dan memuaskan dari pada bergantung pada situasi dan lingkungannya.
        Teori dasar konseling realitas menurut (http://zamzamisabiq.blogspot.com/2013/04/pendekatan-konseling-realitas.html di unduh pada tanggal  juni 2013 pukul 15:35) adalah “teori pilihan” yang menjelaskan bahwa manusia berfungsi secara individu, dan juga berfungsi secara sosial (kelompok atau masyarakat) dengan pilihan perilaku efektif  yang bertanggungjawab. Teori pilihan menjelaskan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan adalah pilihan kita. Apa yang kita lakukan adalah kita yang memilihnya/memutuskannya untuk melakukan hal tersebut. Setiap perilaku kita merupakan upaya terbaik untuk mencapai apa yang diinginkan untuk memuaskan kebutuhan kita.   Secara utuh setiap perilaku manusia terdiri dari 4 komponen : a. Bertindak (acting), b. Berpikir (thinking), c. Merasakan (feeling), d. Fisiologi (physiologi). Setiap perilaku adalah sebuah pilihan, oleh karena itu bahwa konseli disadarkan dengan mengungkapkan gejala-gejala perilaku bermasalahnya dalam bentuk aktif.
  Saya cemas à saya memilih untuk cemas
  Saya marah à saya memilih untuk marah


Agar perubahan terjadi maka ada 2 syarat :
a.       Klien harus menyadari bahwa perilakunya saat ini tidak efektif untuk memenuhi kebutuhan dasarnya
b.      Klien harus yakin bahwa ia mampu memilih perilaku lain yang lebih efektif untuk memuaskan kebutuhan dasarnya
        Layanan konseling ini bertujuan menurut (http://bimbingannews.blogspot.com/2012/12/pendekatan-konseling-realistis.html di unduh pada tanggal 18 juni 2013 pukul 15:43) menbantu konseli mencapai identitas berhasil. Konseli yang mengetahui identitasnya, akan mengetahui langkah-langkah yang akan ia lakukan dimasa yang akan lakukan dimasa yang akan datang dengan segala konsekuensinya. Bersama-sama konselor, konseli dihadapkan kembali pada kenyataan hidup. Sehingga dapat memahami dan mampu menghadapi realitas.
Teknik-teknik dalam Konseling Realitas (http://akhmadsurdajat.wordpress.com/2008/07/14/terapi-realitas/ di unduh pada tanggal 18 mei 2013 pukul 15:51) :
1.      Menggunakan role playing dengan konseli
2.      Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dan relaks
3.      Tidak menjanjikan kepada konseli maaf apapun, karena terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan perilaku tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien.
4.      Menolong konseli untuk merumuskan perilaku tertentu yang akan dilakukannya.
5.      Membuat model-model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik.
6.      Membuat batas-batas yang tegas dari struktur dan situasi terapinya
7.      Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejekan yang pantas untuk mengkonfrontasikan konseli dengan perilakunya yang tak pantas.
8.      Ikut terlibat mencari hidup yang lebih efektif.
        Terkait dengan kasus Yuli, dia sebenarnya adalah anak yang baik dan penurut terhadap kedua orang tuanya. Tetapi karena keterbatasan ekonomi keluarga Yuli akhirnya menjadi anak yang tidak penurut atau pembangkang ( jika diperintah orang tuanya Yuli selalu menolak)
        Dengan demikian maka dapat disimpulkan usaha konselor dalam memberi bantuan kepada Yuli dengan menggunakan teknik Menolong konseli untuk merumuskan perilaku tertentu yang akan dilakukannya.
        Terapi Realitas menurut  (http://www.metu.edu.tr/~e133376/project/Glasser%27s%20Reality%20Therapy.htm di unduh pada tanggal 19 juni 2013 pukul 08:44) dikembangkan pada pertengahan enam puluhan oleh William Glasser, seorang Psikiater Amerika, dan teknik, teori dan aplikasi yang lebih luas terus berkembang di tangannya. Terapi Realitas adalah metode konseling yang mengajarkan orang bagaimana untuk mengarahkan kehidupan mereka sendiri, membuat pilihan yang lebih efektif, dan bagaimana mengembangkan kekuatan untuk menghadapi tekanan dan masalah hidup
        Inti dari Terapi Realitas adalah gagasan bahwa terlepas dari apa yang telah "terjadi" dalam hidup kita, atau apa yang telah kita lakukan di masa lalu, kita dapat memilih perilaku yang akan membantu kami memenuhi kebutuhan kita lebih efektif di masa depan. Menurut Glasser, individu yang melarikan diri dari kenyataan dengan berperilaku dengan cara yang tidak pantas tidak perlu mencari alasan dan pembelaan untuk perilaku tidak logis mereka. Sebaliknya, orang harus dibantu untuk mengakui perilaku mereka sebagai tidak bertanggung jawab dan kemudian mengambil tindakan untuk membuatnya lebih logis dan produktif. Baginya, setiap individu harus memenuhi kebutuhan sendiri dengan cara yang tidak bertentangan dengan yang lain. Dia dengan jelas menyatakan bahwa setiap individu bertanggung jawab atas tindakannya sendiri, dan terlepas dari bagaimana terganggu atau tergantung dia mengaku, setiap orang harus menanggung konsekuensi dari perilaku sendiri dan membuat komitmen untuk bertindak secara bertanggung jawab terhadap orang lain.
2)      Perspektif trait and factor
Memahami Yuli dalam perspektif Teori trait and factor. Konsep dasar yang dipakai oleh trait and factor adalah karir. manusia (http://enikfitriant.blogspot.com/2013/03/a-konsep-dasar-konseling-trait-and.html di unduh pada tanggal 16 Juni 2013 pukul 19:33) merupakan sistem sifat atau faktor yang saling berkaitan antara satu dengan lainnya, seperti kecakapan, minat, sikap, dan temperamen. Perkembangan individu mulai dari masa bayi sampai dewasa diperkuat oleh interaksi sifat dan faktor. Telah banyak dilakukan usaha untuk menyusun kategori individu atas dasar dimensi sifat dan faktor.
        Tokoh-tokoh (http://ewintri.wordpress.com/tag/pendekatan-konseling-trait-dan-factor/ di unduh pada tanggal 16 juni 2013 pukul 19:36) dalam teori konseling Trait & Factor antara lain : Wolter Bingham, John Darley, Donald G. Paterson, dan E. G. Williemson. Menurut teori ini, kepribadian merupakan suatu system sifat atau factor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya seperti kecakapan,minat,sikap,dan tempramen.
Konseling trait and factor (http://zamzamisabiq.blogspot.com/2013/05/pendekatan-konseling-trait-and-factor.html di unduh pada tanggal 16 juni 2013 pukul 20:13) bertujuan: (1) membantu individu mencapai perkembangan kesempurnaan berbagai aspek kehidupan manusia; (2) membantu individu dalam memperoleh kemajuan memahami dan mengelola diri dengan cara membantunya menilai kekuatan dan kelemahan diri dalam kegiatan dengan perubahan kemajuan tujuan-tujuan hidup dan karir; (3) membantu individu untuk memperbaiki kekurangan, ketidakmampuan, dan keterbatasan diri serta membantu pertumbuhan dan integrasi kepribadian; dan (4) mengubah sifat-sifat subyektif dan kesalahan dalam penilaian diri dengan mengggunakan metode ilmiah.                       
Ada beberapa teknik umum yang digunakan dalam pendekatan ini :
1.      Menurut (http://zamzamisabiq.blogspot.com/2013/05/pendekatan-konseling-trait-and-factor.html di unduh pada tanggal 16 juni 2013 pukul 20:13) antara lain :
1)      Attending.
Attending adalah perilaku konselor untuk melibatkan diri dalam proses konseling meliputi : kontak mata, kualitas suara, jejak verbal, dan bahasa tubuh.
Tujuan menggunakan teknik ini adalah :
a.       Menunjukkan pada konseli bahwa proses konseling konselor memperhatikan sepenuhnya kepada konseli.
b.      Mengkomunikasikan penerimaan konselor terhadap konseli.
c.       Mengajak dan mengembangkan keterlibatan konseli secara personal dalam melaksanakan sesi konseling.
d.      Menangkap secara utuh pesan dan ungkapan yang diberikan konseling baik dalam bentuk verbal maupun non verbal.
2)      Opening.
Opening adalah membuka kegiatan wawancara
Tujuan Pembukaan wawancara konseling untuk :
a.       Menciptakan rasa aman konseling selama mengikuti sesi konseling.
b.      Mengurangi kecemasan dalam proses konseling.
c.       Menciptakan kondisi fasilitas dalam konseling.
3)      Acceptence
Acceptence adalah penerimaan terhadap klien.
        Tujuan teknik penerimaan untuk :
a.       Mengkomunikasikan sikap dasar konselor terutama ketika membentuk suasana akrab.
b.      Disadarinya oleh konseling bahwa konselor benar-benar mendengarkan apa yang dikatakannya.
c.       Terbentuknya suasana emosional klien.
4)      Restatement dan Pharaprasing.
Restatement adalah mengulang atau menyatakan kembali sebagian pernyataan konseling yang dianggap penting.
Pharaprase adalah mengulang kalimat/ pernyataan singkat konseli secara utuh, apa adanya tanpa merubah makna.
Tujuan :
a.       Diketahui oleh klien , bahwa konselor mendengarkan yang dikatakannya.
b.      Diperolehnya informasi penting.
c.       Terujinya data yang diverbalissasikan klien.
5)      Reflection of Feeling
Reflection of Feeling adalah pantualan perasaan yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan / sikap yang terkandung di balik pernyataan klien.
Tujuan :
a.       Dirasakannya oleh klien bahwa dirinya dipahami oleh konselor.
b.      Terdorongnya konseli lebih mengekprsikan perasaan-perasaannya terhadap situasi tertentu.
6)      Clarification.
Clarification adalah mengungkapkan kembali isi pernyataan klien dengan menggunakan kata-kata baru dan segar.
Tujuannya :
a.       Mengungkap isi pesan utama yang disampaiakn klien.
b.      Memperjelas isi pesan yang diungkapkan klien.
7)      Structuring
adalah penegasan tentang batas-batas konseling itu sesungguhnya.
Tujuannya :
a.       Diperolehnya kesamaan harapan konselor dan klien.
b.      Diperolehnya kesepakatan dari konseling mengenai apa terlibat dalam metode dan tujuan konseling.
8)      Summary
Meringkas adalah suatu proses untuk memadu berbagai ide dan perasaan dalam satu pernyataan pada akhir suatu unit wawancara konseling.
      Tujuannya :
a.       Memadukan unsur-unsur tema yang muncul dalam pembicaraan.
b.      Mengidentifikasi pola isi pembicaraan konseli.
c.       Menghindari pembicara yang diulang-ulang dan bertele-tele.
d.      Merangkum kemajuan yang telah dicapai dalam proses konseling.
2.      Menurut Wiliamson (http://binham.wordpress.com/2012/06/18/pendekatan-konseling-trait-and-factor/ diunduh pada tanggal 26 Juni 2013 pukul 19:05) ada lima macam yaitu sebagai berikut:
1)      Establishing rapport (menciptakan hubungan baru)
Untuk cepat menciptakan hubungan baru yang baik, konselor perlu menciptakan suasana hangat, bersifat ramah dan akrab dan menghilangkan kemungkinan situasi yang bersifat mengancam
2)      Cultivatingself-understanding (mempertajam pemahaman diri)
Konselor perlu berusaha agar klien atau siswa lebih mampu memahami dirinya yang mencakup segala kelebihan maupun kekurangannya, dan dibantu untuk menggunakan kekuatan dan mengatasi kekurangannya. Untuk itu, dapat dimengerti kalau misalnya onselor dituntut untuk menginterprestasikan data klien, termasuk data hasil testing.
3)      Advising or planning a program of action (membari nasehat atau membantu merencanakan program tindakan). Dalam melaksanakan hal ini, konselor memulai dari apa yang menjadi pilihan klien, tujuannya, pandangannya, dan sikapnya: kemudian mengemukakan alternasi-alternasi untuk dibahas segi-segi positif dan negatifnya, manfaat dan kerugiannya. Oleh karena itu, klien perlu didorong untuk menyampaikan ide-idenya sendiri untuk dipertimbangkan, dan konselor memberikan saran-saran pengambilan keputusan dan pelaksanaannya.
4)      Carrying out the plan (melaksanakan rencana)
Mengikuti pilihan atau keputusan klien, konselor dapat memberikan bantuan langsung bagi implementasi atau pelaksanaannya. Bantuannya, antara lain berupa rencana atau program pendidikan dan pelatihan atau usaha-usaha perbaikan lainnya yang lebih dapat menyempurnakan keberhasilan tindakan. Contoh/; apabila dalam keputusannya, klien akan menemui gurunya, maka klien diajak mendiskusikan kapan hal itu dilakukan, dimana, dengan cara apa, dengan siapa dan sebagainya.
5)      Refferal (pengiriman pada ahli lain)
Pada kenyataannya tidak ada konselor yang ahli dalam memecahkan segala permasalahan siswa, yang karena itu konselor perlu menyadari keterbatasan dirinya. Apabila konselor tidak mampu, janganlah memaksakan diri atau berbuat coba-coba. Konselor perlu mengirimkan kliennya pada ahli lain yang lebih mampu.
        Menurut pendapat kelompok kami terkait dengan permasalahan Yuli, Yuli masuk ke universitas yang tidak sesuai dengan keinginannya. Dengan bantuan konselor meyakinkan Yuli bahwa dimanapun dan apapun jurusan yang dia ambil tidak akan jadi masalah apabila Yuli mampu mengerti dan belajar untuk menerima kenyataan. Melupakan serta memperbaiki hal negatif yang dilakukan di masa lalu. Dengan giat belajar banyak kemungkinan Yuli mampu mendalami jurusan yang dia jalani itu dengan lancar, dan diharapkan setelah lulus bisa mudah mendapatkan pekerjaan.
a.      Menentukan Indikator
1.      Masalah Pribadi
1)      Sering melawan orang tua
2)      Menjadi anak yang malas dalam mengerjakan pekerjaan rumah
2.      Masalah karir
1)      Tidak bisa masuk universitas yang dia inginkan
2)      Masuk penjurusan yang tidak sesuai dengan minatnya
3)      Orang tua tidak mendukung jurusan yang diminati
b.      Penyusunan Blue Print
1.   Masalah Pribadi
Komponen
Favorable
Unfavorable
Tidak menerima  keadaan keluarganya
3,4,5,6
1,2,7

Te
AiAitem
Dalam angket tersebut, responden di minta untuk memberi jawaban atau tanda ceklis yang sesuai dengan dirinya. Pilihan tersebut dapat dengan pernyataan sebagai berikut:

Favorable
Unfavorable
SS        :Sangat Setuju
4
1
S          :Setuju
3
2
TS        :Tidak Setuju
2
3
STS     :Sangat Tidak Setuju
1
4



2.      Masalah Pribadi
No.
Pernyataan
SS
S
TS
STS
  1.  
Saya menerima keadaan orang tua saya


ü   

  1.  
Saya selalu menuruti perintah orang tua


ü   

  1.  
Saya malas ketika orang tua menyuruh melakukan pekerjaan rumah
  ü   



  1. .
Saya tidak suka dinasehati orang tua

  ü   


  1.  
Saya tidak suka harga diri saya di remehkan
ü  



  1.  
Saya malu dengan keadaan orang tua saya
ü  



  1.  
Saya merasa kebutuhan saya terpenuhi



ü   

3.   Masalah Karir
Komponen
Favorable
Unfavorable
Tidak tercapainya minat jurusan
1,5
2,3,4




No.
Pernyataan
SS
S
TS
STS
  1.  
Orang tua saya tidak mendukung jurusan yang saya pilih
  ü   



  1.  
Saya selalu bersemangat dengan jurusan yang saya pilih




ü   
  1.  
Saya sudah melanjutkan pendidikan sesuai dengan minat saya


ü   

  1.  
Saya sudah siap untuk masa depan yang lebih baik



ü   
  1. .
Saya belum menyiapkan diri supaya mencapai sukses dalam jurusan dan pekerjaan



  ü   







  
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
 Parameter merupakan indikator dari suatu distribusi hasil pengukuran. Nilai yang mengikuti sebagai acuan. Keterangan atau informasi yang dapat menjelaskan batas-batas atau bagian-bagian tertentu dari suatu sistem.
Suatu parameter adalah kuantitas terukur yang inheren dalam suatu masalah. Syarat ketercapaian tujuan. Artinya, parameter yang terwujudkan mengindikasikan ketercapaian tujuan.
parameter masalah adalah suatu alat ukur yang digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan individu dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya.
Asesmen merupakan salah satu kegiatan  pengukuran. Dalam konteks bimbingan konseling, asesmen yaitu mengukur suatu proses konseling yang harus dilakukan konselor  sebelum, selama, dan setelah konseling tersebut dilaksanakan/ berlangsung
Insrtrumentasi merupakan bagian dari kegiatan pendukung dari bimbingan konseling yang mana terdapat di dalamnya instrument tes dan non tes.

B.     Saran
Dalam setiap permasalahan di harapkan kita sebagai calon konselor dapat mengidentifasi masalah yang ada pada diri klien sehingga konselor dapat memberikan treatmen yang tepat dan mencapai perubahan tingkah laku yang di harapkan.
DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Saifudin. 2012. Penyusunan skala psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset.


http://www.kamusbesar.com/28761/parameter di unduh pada tanggal 26 Juni 2013 pukul 15:21


http://www.businessdictionary.com/definition/parameter.html di unduh pada tanggal 26 Juni 2013 pukul 15:20


http://bkpemula.wordpress.com/2012/01/29/assesmen-dalam-bk/ diunduh pada tanggal 19 juni 2013 pukul 09:53


http://unsilster.com/2009/12/pengertian-asesmen/ diunduh pada tanggal 26 Juni 2013 pukul 15:48


http://konseling.ipdn.ac.id/gbpp-sap-pelatihan diunduh pada tanggal 26 Juni 2013 pukul 16:39
http://wieztha.blogspot.com/2012/05/jenis-jenis-instrumen-bimbingan.html di unduh pada tanggal 19 juni 2013 pukul 09:44

http://alisarjunipadang.blogspot.com/2013/04/pengertian-indikator.html di unduh pada tanggal 13 juni 2013 pukul 11:35

http://sitiroikhanah.blogspot.com/2013/01/kemandirian-siswa.html di unduh pada tanggal 14 juni 2013 pukul 11:52

http://eprints.uny.ac.id/7723/3/BAB%202%20-%2008601244012.pdf diunduh pada tanggal 26 Juni 2013 pukul 17:06


http://en.wikipedia.org/wiki/Diagnosis di unduh pada tanggal 17 juni 2013 pukul 21:54






http://akhmadsurdajat.wordpress.com/2008/07/14/terapi-realitas/ di unduh pada tanggal 18 mei 2013 pukul 15:51



http://ewintri.wordpress.com/tag/pendekatan-konseling-trait-dan-factor/ di unduh pada tanggal 16 juni 2013 pukul 19:36




http://www.psychologymania.com/2013/03/pengertian-evaluasi.html diunduh pada tanggal 26 Juni 2013 pukul 19:41

http://en.wikipedia.org/wiki/Evaluation_%28disambiguation%29 di unduh pada tanggal 16 juni 2013 pukul 22:56

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar